Rabu, 31 Desember 2008

Menjadi wirausahawan muda, bikin bangga

Sekarang uda nggak jamannya lagi bilang, “ ma, uang sakunya mana? ”. Bukan bermaksud mencoba menggugurkan kewajiban orang tua untuk menafkahi kita lho… Tapi apa kita ndak malu sama rumput yang bergoyang (hehe…rumput kl kena angin kan emang bergoyang… ). Maksudnya kalo’ kita bisa menjadi wirausaha sejak muda, kita bakalan bangga (ingat, bangga bukan berarti sombong). Alasannya selain kita bisa membantu teman kita yang “mungkin kurang beruntung” (dengan merekrutnya jadi karyawan kah, ato lainnya) kita juga bisa dapat memenuhi kebutuhan atau bahkan keinginan kita sendiri. (Lho Kenapa kita mikirin orang lain ???..) Bukannya kita selama ini tidak menyadari bahwa kita bisa menjadi seperti ini karena banyak orang yang “disadari atau tidak” telah memikirkan kita lho.. seperti guru-guru kita dan masih banyak lagi.



Nah itulah enaknya kl uda punya usaha sendiri. Tapi sobat, gimana dengan aktivitas sekolah kita kalo kita punya usaha…., kan terganggu? Begitulah biasanya anak muda yang belum merasakan nikmatnya berbisnis bertanya. 

Justru itu tantangan dan seninya hidup. Kita musti belajar sejak dini membagi waktu yang proporsional antara berbagai aktivitas keseharian kita. Tau nggak kalo sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita mampu membagi waktu antara belajar, bermain, beribadah, bahkan mungkin berpacaran (kalo boleh ngasi saran selagi masih muda jangan pacaran dulu lah…), berolahraga dan seabrek aktivitas lainnya, mengapa kita tidak bisa menambahkan menu ‘bisnis’ di dalam agenda keseharian kita…?

Diantara kita mungkin ada yang sudah mendapat banyak pelajaran berharga mengenai tata cara berbisnis dengan efektif karena kedua orang tuanya telah memiliki kerajaan bisnis yang luar biasa. Dengan begitu mereka tidak tidak perlu lagi bersusah payah membangun bisnis dari nol. Tapi perlu diingat…..ndak semua generasi penerus bisa mempertahankan atau mengembangkannya lho. Ada juga yang justru hancur. 

Namun bagi yang belum punya bekal berwirausaha jangan patah hati dulu…Banyak disekitar kita yang bisa menjadi ‘guru’ kita untuk belajar bisnis. Disekitar kita ada paman, paklik, om, tante, kerabat, teman hingga orang yang enggak kita kenal sekalipun yang bisa membagikan seabrek ilmunya bagi kita. Kita juga bisa mendapatkan referensi melalui majalah-majalah tentang wirausaha, buku-buku, internet dan media lain yang sobat lebih tau .

Di tulisan lainnya, akan dibahas lebih banyak mengenai kiat menemukan ide bisnis, cara memulai bisnis, bagaimana membangun jaringan bisnis, terapi (ciee…kayak kerasukan jin aja pake terapi) saat gagal dalam bisnis, dan masih banyak lagi dech. So, jangan sungkan2 berkunjung. Sampai ketemu di tulisan berikutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar